Jumat, 10 Desember 2010

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif


Anda mau membeli HP, motor, mobil, sepatu, kaos, rumah, laundry, dll? Faktor apa saja yang mempengaruhi Anda membeli barang atau jasa tersebut?

Seseorang membeli suatu barang atau menggunakan jasa dipengaruhi oleh dua faktor (Swastha dan Handoko, 1982, h.55-92), yaitu:

1. Faktor eksternal atau lingkungan.

Perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor lingkungan dimana individu tersebut dilahirkan dan dibesarkan. Konsumen yang berasal dari lingkungan yang berbeda akan memiliki penilaian, kebutuhan, dan selera yang berbeda-beda. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah:

a. Kebudayaan

Manusia dengan kemampuan akal budinya telah mengembangkan berbagai macam sistem perilaku demi keperluan hidupnya. Faktor budaya mempunyai pengaruh paling luas dan mendalam dalam perilaku konsumen. Menurut Stanton (Swastha dan Handoko, 1982, h.59) kebudayaan merupakan simbol dan fakta yang kompleks, diciptakan manusia, dan diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur perilaku manusia dalam masyarakat yang ada. Kebudayaan adalah determinan yang paling fundamental dari keinginan dan perilaku seseorang (Kotler, 1995, h.203-204). Pengaruh kebudayaan pada perilaku konsumen dapat tercermin pada cara hidup, kebiasaan, dan tradisi dalam permintaan akan bermacam-macam barang dan jasa di pasar.

b. Sub kebudayaan

Kebudayaan terdiri atas sub-sub budaya yang lebih kecil. Sub-sub budaya ini memberikan banyak ciri-ciri dan sosialisasi khusus bagi anggota-anggotanya. Sub kebudayaan terdiri atas kebangsaan, agama, kelompok ras, dan daerah geografis (Kotler, 2000, h.183).

c. Kelas sosial

Kelas sosial adalah pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen, yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan perilaku yang serupa (Kotler, 2000, h, 186).

Perilaku konsumen antar kelas sosial yang satu akan berbeda dengan kelas sosial yang lain. Pada umumnya seseorang dari golongan bawah akan menggunakan uangnya dengan cermat bila dibandingkan dengan mereka yang berasal dari golongan atas. Konsumen dari golongan atas, dalam memilih barang biasanya cenderung berbelanja dengan memilih yang terbaik (Swasta dan Handoko, 1987, h 63).

d. Kelompok sosial atau referensi Swastha dan Handoko (1987, h.66) menyatakan bahwa manusia sejak lahir mempunyai keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungannya dan berinteraksi dengan manusia lain. Keinginan tersebut menimbulkan kelompok sosial yaitu kesatuan sosial yang menjadi tempat individu berinteraksi satu sama lain.

Kelompok sosial ini sering disebut sebagai kelompok acuan. Kelompok acuan adalah kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pendirian atau perilaku seseorang (Kotler, 1995, h.208).

e. Keluarga

Keluarga merupakan pengaruh utama dalam pembentukan sikap dan perilaku seseorang. Peranan setiap anggota keluarga dalam membeli berbeda-beda menurut barang yang akan dibelinya. Anggota keluarga dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku membeli (Swastha dan Handoko, 1987, h.70).

Kotler menambahkan bahwa selain kelima faktor diatas ada satu lagi faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku konsumtif, yaitu peran dan status sosial. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Masing-masing peran menghasilkan status.

2. Faktor internal, terdiri atas:

a. Motivasi

Kotler (1995, h.216) motif atau dorongan adalah suatu kebutuhan yang dapat mendorong seseorang untuk bertindak. Motivasi seseorang dalam membeli adalah memuaskan dorongan kebutuhan dan keinginan yang diarahkan untuk mengurangi rasa ketegangan.

b. Pengamatan

Pengamatan merupakan respon dimana konsumen menyadari dan menginteprestasikan aspek lingkungan. Pengamatan seseorang dipengaruhi oleh pengalamannya. Pengalaman diperoleh dari semua perbuatan di masa lalu yang dipelajari. Hasil pengamatan individu akan membentuk pandangan tertentu terhadap suatu produk.

c. Belajar

Perubahan perilaku terjadi karena adanya pengalaman (Swastha dan Handoko, 1987, h.84). Proses belajar menggambarkan perubahan dalam perilaku individu yang bersumber dari pengalaman. Proses pembelian oleh konsumen merupakan proses belajar yang dapat terjadi bila konsumen ingin menanggapi dan memperoleh suatu kepuasaan.

d. Kepribadian

Kepribadian dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk dari sifat-sifat yang ada pada individu yang sangat menentukan perilakunya (Mangkunegara, 2002, h.46). Kepribadian dapat diuraikan dalam sifat-sifat percaya diri, dominasi, kemudahan bergaul, otonomi, mempertahankan diri, menyesuaikan diri, dan keagresifan (Kotler dan Amstrong, 2001, h.211). Sifat-sifat ini berbeda pada tiap individu. Perubahan sifat-sifat individu tentunya akan membentuk pola perilaku yang berbeda pula, termasuk dalam hal mengkonsumsi suatu barang.

e. Konsep diri Menurut Kotler dan Amstrong (2001, h.211) dasar pemikiran konsep diri adalah apa yang dimiliki seseorang memberi kontribusi dan mencerminkan identitas mereka. Konsep diri merupakan cara kita melihat diri sendiri dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang apa yang kita pikirkan (Mangkunegara, 2002, h.47). Konsep diri yang berbeda pada setiap orang menyebabkan pandangan seseorang dalam membeli produk juga berbeda.

f. Sikap dan keyakinan

Sikap merupakan evaluasi, perasaan, emosional, dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama dari seseorang terhadap suatu objek atau gagasan. Sikap membeli dilakukan konsumen berdasarkan pengalaman dan proses belajar yang dapat berupa sikap positif atau negatif terhadap produk tertentu (Kotler dan Amstrong, 2001, h.218).

Keyakinan merupakan gambaran pemikiran yang dianut seseorang terhadap suatu hal. Menurut Kotler dan Amstrong (2001, h.218) keyakinan seseorag didasarkan pada pengetahuan, pendapat, atau kepercayaan.

Selain itu, ada faktor internal lainnya yang mempengaruhi perilaku konsumtif, yaitu faktor pribadi (Kotler, 2001, h.206), yang meliputi:

a. Gaya hidup

Gaya hidup menggambarkan cara hidup dan tingkah laku seseorang. Menurut Assael (1984, h.236) gaya hidup secara garis besar didefinisikan sebagai kecenderungan dalam hidup yang diidentifikasikan dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya (aktivitas), apa yang dianggapnya penting dalam lingkungannya (interes), dan bagaimana orang tersebut memikirkan diri dan dunia sekelilingnya (opini).

Gaya hidup seseorang dipengaruhi oleh kebudayaan, demografi, ekonomi, dan aspek psikologis orang yang bersangkutan. Gaya hidup juga terkait dengan status sosial individu (Kotler dan Amstrong, 2001, h.208).

b. Keadaan ekonomi dan pekerjaan

Pilihan terhadap suatu produk sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi seseorang (Kotler, 2000, h.191). Keadaan ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkat, status, dan polanya), tabungan dan kekayaan, kemampuan untuk meminjam dan sikap terhadap pengeluaran. Seseorang akan membeli barang yang dibutuhkan atau diinginkan jika pendapatan yang dialokasikan untuk pembelanjaan memungkinkan.

c. Usia dan tahap siklus hidup

Orang membeli barang dan jasa yang berbeda sepanjang hidupnya. Usia seseorang mempengaruhi selera seseorang terhadap pakaian, perabot, dan rekreasi (Kotler dan Amstrong, 2001, h.206).

Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal terdiri atas, kebudayaan, sub budaya, kelas sosial, peran dan status sosial, keluarga, dan kelompok acuan. Faktor internal terdiri atas motivasi, pengamatan, belajar, kepribadian, konsep diri, sikap dan keyakinan, serta faktor pribadi yang terdiri dari gaya hidup, keadaan ekonomi dan pekerjaan, serta usia dan tahap siklus hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar