Selasa, 11 Maret 2014

BEBERAPA ISTILAH PENDIDIKAN ANAK USIA DINI




1.   Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang di tunjukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
2.   Taman Kanak – Kanak (TK) adalah salah satu bentuk pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia 4 – 6 tahun, untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, agar kelak siap memasuki pendidikan lebih lanjut.
3.   Raudatul Athfal (RA) dan Bustanul Athfal (BA) adalah salah satu  bentuk PAUD pada jalur pendidikan  formal yang menyelenggarakan program pendidikan umum dan program keagamaan Islam bagi anak usia 4-6 tahun untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, agar kelak siap memasuki pendidikan lebih lanjut.
4.   Kelompok Bermain (KB) adalah salah satu bentuk pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia 2-4 tahun, untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, agar kelak siap memasuki pendidikan lebih lanjut.
5.   Taman Penitipan Anak (TPA) adalah layanan pendidikan yang dilaksanakan pemerintah dan masyarakat bagi anak usia lahir sampai dengan enam tahun sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu bagi anak yang orang tuanya  bekerja.
6.   Satuan PAUD Sejenis (SPS) adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan nonformal (PAUD Nonformal) yang dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan berbagai program layanan anak usia dini yang telah ada di masyarakat (seperti Pos PAUD, Bina Keluarga Balita, Taman Pendidikan Al Qur’an, Taman Pendidikan Anak Soleh, Bina Iman Anak (BIA), Bina Anak Muslim Berbasis Masjid (BAMBIM), Sekolah Minggu, Pembinaan Anak Kristen (PAK), Pasraman, Vihara, dan Sekolah Hindhu). Atau dengan kata lain Satuan PAUD Sejenis adalah salah satu bentuk layanan PAUD Nonformal selain dalam bentuk Taman Penitiapan Anak dan Kelompok bermain yang memberikan layanan  pendidikan dalam rangka membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, agar kelak siap memasuki pendidikan lebih lanjut.
7.   Program PAUD Terpadu adalah  program layanan pendidikan bagi anak usia dini yang menyelenggarakan lebih dari satu program PAUD (TK, KB, TPA, SPS) yang dalam pembinaan, penyelenggaraan dan pengelolaannya dilakukan secara terpadu atau terkoordinasi.

PAUD TERPADU



Berdasarkan kajian di atas, maka pemerintah menerbitkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa “Pendidikan anaik usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Lebih lanjut pada pasal 28 dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. PAUD pada jalur pendidikan formal dapat berupa Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudathul Atfhal (RA). Adapun PAUD pada jalur pendidikan nonformal dapat berupa Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
Meskipun berbagai kebijakan yang berkenan dengan pembinaan dan pelayanan PAUD telah di tetapkan, namun hingga akhir tahun 2009 menunjukkan dari sekitar 28,8 juta anak usia dini (0-6 tahun) yang terlayani PAUD baru sekitar 53,70%, baik yang terlayani melalui PAUD Formal (TK/RA/BA) maupun PAUD Nonformal (Taman Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Satuan PAUD Sejenis, seperti PAUD Terintegrasi BKB/Posyandu, Taman Pendidikan Anak Sholeh/TAPAS, Taman Asuh Anak Muslim/TAAM), Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ), dan sejenisnya. Masih rendahnya akses layanan PAUD tersebut, antara lain disebabkan belum optimalnya pemanfaatan berbagai lembaga PAUD yang ada untuk memberikan layanan bagi anak usia 0 – 6 tahun, dan pada umumnya masih bersifat parsial, antara satu lembaga PAUD dengan lembaga PAUD lainnya.

Oleh sebab itu pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini perlu dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi, agar kemampuan anak dapat berkembang sesuai dengan usianya. Peraturan Menteri Pendidikan nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional menetapkan bahwa pembinaan pendidikan anak usia dini, baik yang mencakup PAUD Formal (TK/RA), PAUD Nonformal (TPA, KB dan SPS), dan PAUD Informal, pembinaannya menjadi kewenangan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal, yang secara teknis dilakukan Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Minggu, 09 Juni 2013

PENGARUH KEDISIPLINAN



Orang yang memiliki disiplin diri yang baik akan berpengaruh terhadap perilakunya, yaitu tingkah laku, minat, pendirian, dan kemampuan yang positif. Pribadi yang disiplin sangat berhati-hati dalam mengelola pekerjaan dan penuh tanggung jawab dalam memenuhi kewajibannya. Misalnya, seorang yang disiplin tidak akan mau menyontek karena menyontek berarti menipu diri sendiri dan orang lain, tidak merokok karena dapat merusak kesehatannya, atau tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah meskipun tanpa pengawasan orangtua. Demikian pula, orang yng disiplin akan menjalankan tugas piket, mengerjakan tugas rumah, dan berbagai tanggung jawab lainnya karena terbiasa bertanggung jawab (Rintyastini dan Charlotte, 2010: 57).
              Linda dan Richard Eyre (dalam Rintyastini dan Charlotte, 2010: 60) menjelaskan pengaruh kedisiplinan diri bagi seseorang yaitu: (1) sanggup menggerakkan dan mengatur diri serta waktu sendiri, (2) sanggup mengendalikan emosi, (3) sanggup mengendalikan nafsu.
              Sebaliknya, jika orang tidak memiliki kedisiplinan akan memiliki perilaku yang negatif. Perilaku negatif sebagian remaja, pelajar, dan mahasiswa yang tidak disiplin akhir-akhir ini telah melampaui batas kewajaran karena telah menjurus pada tindak melanggar hukum, melawan hukum, melanggar tata-tertib, melanggar moral agama, krimimnal, dan telah membawa akibat yang sangat merugikan masyarakat. Dalam hal ini, guru bertanggung jawab mengarahkan apa yang baik, dan berbuat apa yang baik, harus menjadi contoh, sabar, dan penuh pengertian. Guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri peserta didik, terutama disiplin diri. Untuk kepentingan tersebut, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) membantu peserta didik mengembangkan pola perilaku untuk dirinya, (2) membantu peserta didik meningkatkan stadar perilakunya, (3) menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin.
              Kesimpulannya, kedisiplinan berpengaruh terhadap perilaku seseorang, yaitu tingkah laku, minat, pendirian, dan kemampuan yang positif.

OTORITAS ORANGTUA DAN GURU DALAM MENANAMKAN DISIPLIN



Pada umumnya anak mulai menumbuhkan disiplin melalui otoritas orang tuanya. Otoritas ini harus bersifat tegas, ramah, masuk akal dan tetap. Dengan demikian anak akan merasa diri aman. Otoritas yang wajar menyebabkan anak belajar menekan kesenangan-kesenangan dan mendahulukan kewajiban dan usaha-usaha untuk tujuan masa depan.
Otoritas yang berlebihan dan tidak pada tempatnya, akan menimbulkan sikap menentang pada anak. Bahkan mungkin saja sikap menentang otoritas orangtua dapat memperluas sampai ke sikap menentang terhadap setiap bentuk otoritas, baik otoritas guru maupun otoritas majikan kalau dia sudah dewasa. 
Pendidikan sering dilakukan dengan disiplin dan kekerasan. Sekarang disiplin tetap harus ditanamkan, tetapi tidak lagi dengan kekerasan terhadap pelanggaran, melainkan dengan dengan wejangan-wejangan. Tingkahlaku anak kecil ditumbuhkan melalui teladan, ajaran-ajaran, pujian dan hukuman. Teladan dan ajaran membentuk tingkahlaku dan menangarahkan anak dalam bertingkahlaku. Pujian berperan dalam menguatkan dan mengukuhkan suatu tingkahlaku yang baik. Sedangkan hukuman bertujuan untuk menekan atau membuang tingkahlaku yang tidak pantas.