Rabu, 19 Januari 2011

PENDEKATAN PENGELOLAAN KELAS


Ada banyak pendekatan pengelolaan kelas. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Pendekatan otoriter, yang memandang pengelolaan. kelas sebagai mengontrol tingkah laku siswa. Dalam hal ini guru berperan sebagai pencipta dan penjaga tata tertib kelas. Tata tertib kelas dapat diciptakan dan dipertahankan melalui disiplin (peraturan) Disiplin dalam hal ini berarti mentaati tatatertib secara tepat.

2. Pendekatan intimidasi, hampir sama dengan pendekatan otoriter, memandang pengelolaan kelas sebagai mengontrol tingkah laku siswa. Tingkah laku siswa dapat dikontrol melalui intimidasi, sindiran (sarkasme), ejekan, paksaan, ancaman, penolakan (tidak menyetujui). Guru berperan untuk menakuti siswa agar bertingkah laku sesuai yang diinginkan guru.

3. Pendekatan permisif, yang memberikan kebebasan penuh kepada siswa untuk ­mengerjakan apa yang diinginkan dengan tempat dan waktu yang sesuai. Guru yang tidak memberikan kebebasan dianggap menghambat perkembangan siswa.

4. Pendekatan “buku resep” (cookbook), menekankan pada dalil-dalil (rumus, resep), mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan oleh siswa dan juga guru.

5. Pendekatan instruksional, dengan mengupayakan proses pembelajaran sebaik-baiknya sesuai kebutuhan dan minat siswa. Pendekatan ini berasumsi bahwa dengan proses pembelajaran yang baik, sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa, tidak akan menimbulkan masalah, bahkan dapat memecahkan masalah. Maka tugas (peran) guru adalah merancang dan melaksanakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya.

6. Pendekatan modifikasi tingkah laku (behavior modification), yang memandang pengelolaan kelas sebagai proses pembentukan dan pengubahan tingkah laku. Guru berperan untuk mempertahankan tingkah laku yang sudah baik dan menghilangkan tingkah laku yang tidak/kurang baik. Dalam hal ini digunakan prinsip penguatan (reinforcement), ganjaran (reward), pujian, penghargaan, pengakuan.

7. Pendekatan iklim sosio emosional (socioemotional climate), menciptakan iklim sosioemosional yang positif di kelas. Asumsinya, bahwa proses pembelajaran akan berhasil secara maksimal bila didukung oleh suasana kelas yang kondusif. Suasana kondusif dapat diciptakan dengan adanya hubungan baik, akrab, sehat (rapport) antar pribadi (guru dengan siswa dan siswa dengan siswa).

8. Pendekatan proses kelompok (group process), yang memandang kelas sebagai sistem sosial di mana terjadi proses interaksi antar anggota kelompoknya. Tingkah laku kelompok merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran, meskipun belajar itu sendiri adalah proses individual. Guru berperan mewujudkan kelas sebagai kelompok yang kompak dan dinamis.

9. Pendekatan pluralistik atau eklektik, yaitu guru menggunakan beberapa pendekatan (pluralistik) secara terpadu (eklektik) untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang kondusif bagi proses pembelajaran. Hal ini mendasarkan pada asumsi bahwa tidak ada satu pendekatan yang paling baik (paling cocok) untuk semua proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang satu menuntut kondisi (persyaratan) yang berbeda dari proses pembelajaran yang lain; faktor tempat, waktu, dan situasi turut menentukan yang memerlukan tindakan antisipasi secara tepat dan cermat. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pengelolaan kelas adalah “sent”, artinya membutuhkan penanganan secara khusus, unik, dan bersifat subjektif, serta kondisional (sesuai tuntutan persyaratannya).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar