Jumat, 04 Februari 2011

Dasar Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


Pengembangan Program kegiatan belajar/kurikulum bagi anak usia dini dikembangkan berdasarkan sejumlah pendekatan yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak usia dini. Dalam penelitian ini pendekatan yang akan digunakan dalam pengembangan program kegiatan belajar adalah berdasarkan teori perkembangan anak (child developmental, theories), pendekatan kelas berpusat pada anak (child centered approach), pendekatan kontruktivisme (constructivism approach) dan pendekatan kurikulum dengan dasar bermain (playbased curriculum approach) yang akan dipaparkan sebagai berikut :

1. Teori Perkembangan Anak

Pakar psikologi perkembangan memandang bahwa anak terlahir dengan dorongan dari dalam dirinya untuk menguasai berbagai kompetensi. Sebagai contoh seorang anak pada usia berjalan akan terlihat adanya usaha keras untuk menarik dirinya berdiri menggunakan kursi, pada mulanya memang la tidak akan segera naik bahkan terkadang terjatuh sehingga tampak diwajahnya menunjukkan kekesalan. Perjuangan untuk dapat berjalan terjadi secara kontinyu. Seolah takut terjatuh lagi, anak membangun kekuatan untuk bangun dan berdiri. Ini adalah bukti bahwa ada dorongan dari dalam (motivasi instrinsik) yang mengharuskan anak berdiri tegak dan kemudian berjalan.

Pada dasarnya terdapat 2 pendekatan utama yang digunakan untuk pendidikan anak usia dini, yaitu : pendekatan perilaku dan pendekatan perkembangan. Pendektan perilaku beranggapan bahwa konsep-konsep tidaklah berasal dari dalam diri anak dan tidak berkembang secara spontan. Atau dengan perkataan lain konsep-konsep tersebut harus ditanamkan pada anak dan diserap oleh anak, sehingga pendekatan seperti ini melahirkan pengajaran yang berpusat pada guru.

Pendekatan perkembangan, berpandangan bahwa perkembanganlah yang memberikan kerangka untuk memahami dan menghargai pertumbuhan alami anak usia dini. Terdapat beberapa anggapan dari pendekatan ini, yaitu: (1) anak usia dini adalah pebelajar aktif yang secara terus menerus mendapat informasi mengenai dunia lewat permainannya, (2) setiap anak mengalami kemajuan melalui tahapan-tahapan perkembangan yang dapat diperklirakan, (3) anak bergantung pada orang lain dalam hal pertumbuhan emosi dan kognitif melalui interaksi sosial, (4) anak adalah individu yang unik yang tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang berbeda.


2. Pendekatan Berpusat pada Anak

Pendekatan kelas yang berpusat pada anak (child centered approach) adalah suatu kegiatan belajar dimana terjadi interaksi dinamis antara guru dan anak atau antara anak dengan anak lainnya. Secara khusus bertujuan (1) agar anak mampu mewujudkan dan mengakibatkan perubahan, (2) agar anak menjadi pemikir-pemikir yang kritis, (3) anak mampu membuat pilihan- pilihan dalam hidupnya, (4) agar anak mampu menemukan dan menyelesaikan permasalahan secara konstruktif dan inovatif, (5) agar anak menjadi kreatif, imajinatif dan kaya akan gagasan, (6) agar anak memiliki perhatian terhadap masyarakat, negara dan lingkungannya.

Filosofi dari pembelajaran berpusat pada anak adalah program tahap demi tahap, yang didasari pada adanya suatu keyakinan bahwa anak-anak akan tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. Lingkungan yang dirancang secara cermat dengan menggunakan konsep tahap demi tahap mendorong anak-anak untuk bereksplorasi, mempelopori dan menciptakan sesuatu.

Landasan program pembelajaran berpusat pada anak didasari pada 3 prinsip utama program tahap demi tahap bagi anak usia dini, yaitu: konstruktifisme, pelaksanaan yang sesuai dengan perkembangan, dan pendidikan progresif (proses seumur hidup).

Secara spesifik pembelajaran yang berpusat pada anak bertujuan untuk : (1) mengembangkan kemampuan anak secara alamiah sesuai dengan tingkat perkembangannya, (2) berusaha membuat anak bebas dan aman secara psikologis sehingga senang belajar di sekolah, (3) meningkatkan fepedulian dan kerja sama antara pihak sekolah, keluarga dan masyarakat, (4) menekankan pada asas keterbukaan bagi hal-bal yang menunjang pendidikan anak (5) berusaha melengkapi segala kebutuhan yang menunjang perkembangan anak secara optimal.

Model berpusat pada anak sangat berbeda dengan model berpusat pada guru. Pada model yang berpusat pada anak pendekatan yang digLinakan adalah pendekatan berdasarkan perkembangan dan kegiatan bermain, sedangkan pada model yang berpusat pada guru pendekatannya berdasarkan perilaku yang diatur dan pembelajaran yang diatur oleh guru. Mode] berpusat pada anak memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) berorientasi pada perkembeingan anak, (2) berorientasi pada bermain, (3) berdasarkan proses, dan (4) bersifat terbuka / bebas

3. Pendekatan Kontruktivisme

Aliran konstruktifisme meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak berusaha memahami dunia disekeliling mereka, anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia sekitar dan pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya, orang dewasa dan lingkungan.

Selanjutnya dalam pemikiran yang lebih dalam Piaget menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya interaksi langsung indera dengan kenyataan, tetapi juga harus ada pemikiran tentang perubahan yang terjadi yang berhubungan dengan kenyataan, perubahan inilah yang akan membangun pengetahuan nantinya. Pengetahuan juga berasal dari lingkungan budaya kita. Pengetahuan yang berasal dari budaya kita biasanya didapatkan secara turun­-menurun melalui orang-orang yang berada di sekitar kita. Pengetahuan dibangun oleh anak berdasarkan kemampuannya dalam memahami perbedaan berdasarkan persamaan yang tampak.

Lev Vygotsky berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan dari orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak. Selanjutnya dijelaskan bahwa belajar merupakan
suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar karena anak adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikologis yang mengendalikan perilaku belajarnya. Berhubungan dengan proses pembentukan pengetahuan, Vygotsky mengemukakan konsep zone of proximal development (ZPD) sebagai kapasitas potensial belajar anak yang dapat berwujud melalui bantuan orang dewasa atau orang yang lebih terampil. Terdapat 4 (empat) tahapan ZPD adalah pertama, tindakan anak masih dipengaruhi oleh orang lain, kedua tindakan anak didasarkan atas inisiatif sendiri, ketiga tindakan anak berkembang spontan dan terinternalisasi serta keempat tindakan spontan yang diulang-ulang sehingga anak siap berpikir abstrak


Dasar Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Pengembangan Program kegiatan belajar/kurikulum bagi anak usia dini dikembangkan berdasarkan sejumlah pendekatan yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak usia dini. Dalam penelitian ini pendekatan yang akan digunakan dalam pengembangan program kegiatan belajar adalah berdasarkan teori perkembangan anak (child developmental, theories), pendekatan kelas berpusat pada anak (child centered approach), pendekatan kontruktivisme (constructivism approach) dan pendekatan kurikulum dengan dasar bermain (playbased curriculum approach) yang akan dipaparkan sebagai berikut :

1. Teori Perkembangan Anak

Pakar psikologi perkembangan memandang bahwa anak terlahir dengan dorongan dari dalam dirinya untuk menguasai berbagai kompetensi. Sebagai contoh seorang anak pada usia berjalan akan terlihat adanya usaha keras untuk menarik dirinya berdiri menggunakan kursi, pada mulanya memang la tidak akan segera naik bahkan terkadang terjatuh sehingga tampak diwajahnya menunjukkan kekesalan. Perjuangan untuk dapat berjalan terjadi secara kontinyu. Seolah takut terjatuh lagi, anak membangun kekuatan untuk bangun dan berdiri. Ini adalah bukti bahwa ada dorongan dari dalam (motivasi instrinsik) yang mengharuskan anak berdiri tegak dan kemudian berjalan.

Pada dasarnya terdapat 2 pendekatan utama yang digunakan untuk pendidikan anak usia dini, yaitu : pendekatan perilaku dan pendekatan perkembangan. Pendektan perilaku beranggapan bahwa konsep-konsep tidaklah berasal dari dalam diri anak dan tidak berkembang secara spontan. Atau dengan perkataan lain konsep-konsep tersebut harus ditanamkan pada anak dan diserap oleh anak, sehingga pendekatan seperti ini melahirkan pengajaran yang berpusat pada guru.

Pendekatan perkembangan, berpandangan bahwa perkembanganlah yang memberikan kerangka untuk memahami dan menghargai pertumbuhan alami anak usia dini. Terdapat beberapa anggapan dari pendekatan ini, yaitu: (1) anak usia dini adalah pebelajar aktif yang secara terus menerus mendapat informasi mengenai dunia lewat permainannya, (2) setiap anak mengalami kemajuan melalui tahapan-tahapan perkembangan yang dapat diperklirakan, (3) anak bergantung pada orang lain dalam hal pertumbuhan emosi dan kognitif melalui interaksi sosial, (4) anak adalah individu yang unik yang tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang berbeda.


2. Pendekatan Berpusat pada Anak

Pendekatan kelas yang berpusat pada anak (child centered approach) adalah suatu kegiatan belajar dimana terjadi interaksi dinamis antara guru dan anak atau antara anak dengan anak lainnya. Secara khusus bertujuan (1) agar anak mampu mewujudkan dan mengakibatkan perubahan, (2) agar anak menjadi pemikir-pemikir yang kritis, (3) anak mampu membuat pilihan- pilihan dalam hidupnya, (4) agar anak mampu menemukan dan menyelesaikan permasalahan secara konstruktif dan inovatif, (5) agar anak menjadi kreatif, imajinatif dan kaya akan gagasan, (6) agar anak memiliki perhatian terhadap masyarakat, negara dan lingkungannya.

Filosofi dari pembelajaran berpusat pada anak adalah program tahap demi tahap, yang didasari pada adanya suatu keyakinan bahwa anak-anak akan tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. Lingkungan yang dirancang secara cermat dengan menggunakan konsep tahap demi tahap mendorong anak-anak untuk bereksplorasi, mempelopori dan menciptakan sesuatu.

Landasan program pembelajaran berpusat pada anak didasari pada 3 prinsip utama program tahap demi tahap bagi anak usia dini, yaitu: konstruktifisme, pelaksanaan yang sesuai dengan perkembangan, dan pendidikan progresif (proses seumur hidup).

Secara spesifik pembelajaran yang berpusat pada anak bertujuan untuk : (1) mengembangkan kemampuan anak secara alamiah sesuai dengan tingkat perkembangannya, (2) berusaha membuat anak bebas dan aman secara psikologis sehingga senang belajar di sekolah, (3) meningkatkan fepedulian dan kerja sama antara pihak sekolah, keluarga dan masyarakat, (4) menekankan pada asas keterbukaan bagi hal-bal yang menunjang pendidikan anak (5) berusaha melengkapi segala kebutuhan yang menunjang perkembangan anak secara optimal.

Model berpusat pada anak sangat berbeda dengan model berpusat pada guru. Pada model yang berpusat pada anak pendekatan yang digLinakan adalah pendekatan berdasarkan perkembangan dan kegiatan bermain, sedangkan pada model yang berpusat pada guru pendekatannya berdasarkan perilaku yang diatur dan pembelajaran yang diatur oleh guru. Mode] berpusat pada anak memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) berorientasi pada perkembeingan anak, (2) berorientasi pada bermain, (3) berdasarkan proses, dan (4) bersifat terbuka / bebas

3. Pendekatan Kontruktivisme

Aliran konstruktifisme meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak berusaha memahami dunia disekeliling mereka, anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia sekitar dan pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya, orang dewasa dan lingkungan.

Selanjutnya dalam pemikiran yang lebih dalam Piaget menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya interaksi langsung indera dengan kenyataan, tetapi juga harus ada pemikiran tentang perubahan yang terjadi yang berhubungan dengan kenyataan, perubahan inilah yang akan membangun pengetahuan nantinya. Pengetahuan juga berasal dari lingkungan budaya kita. Pengetahuan yang berasal dari budaya kita biasanya didapatkan secara turun­-menurun melalui orang-orang yang berada di sekitar kita. Pengetahuan dibangun oleh anak berdasarkan kemampuannya dalam memahami perbedaan berdasarkan persamaan yang tampak.

Lev Vygotsky berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan dari orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak. Selanjutnya dijelaskan bahwa belajar merupakan
suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar karena anak adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikologis yang mengendalikan perilaku belajarnya. Berhubungan dengan proses pembentukan pengetahuan, Vygotsky mengemukakan konsep zone of proximal development (ZPD) sebagai kapasitas potensial belajar anak yang dapat berwujud melalui bantuan orang dewasa atau orang yang lebih terampil. Terdapat 4 (empat) tahapan ZPD adalah pertama, tindakan anak masih dipengaruhi oleh orang lain, kedua tindakan anak didasarkan atas inisiatif sendiri, ketiga tindakan anak berkembang spontan dan terinternalisasi serta keempat tindakan spontan yang diulang-ulang sehingga anak siap berpikir abstrak


STEREOTIP, PRASANGKA, DAN DISKRIMINASI


Banyak orang menyamakan penggunaan kata prasangka dan diskriminasi. Padahal, secara konseptual, dua kata tersebut memiliki pengertian yang benar-­benar berbeda.

Prasangka adalah sebuah sikap (biasanya bersifat negatif) ditujukan bagi anggota-anggota beberapa kelompok, yang didasarkan pada keanggotaannya dalam kelompok. Dengan kata lain, jika seseorang memiliki prasangka pada seseorang, maka prasangka yang muncul didasarkan pada keanggotaan orang tersebut pada sebuah kelompok dan bukan oleh karakteristik lain yang dimilikinya, seperti kepribadian, masa lalu, atau karena kebiasaan negatifnya. Prasangka yang berkembang lebih disebabkan oleh keanggotaannya dalam sebuah kelompok tertentu. Peran karakteristik diri dalam memunculkan prasangka dari orang yang menjadi target prasangka dapat dikatakan jauh lebih kecil ketimbang keanggotaannya dalam kelompok tertentu. Sebagai sebuah sikap, prasangka tidak harus tampil dalam perilaku yang berlebihan (over), tetapi bisa jadi sebagai sebuah kecenderungan psikologis. Jika prasangka tampil dalalm perilaku yang dapat dilihat, maka kita mendefinisikannya sebagai diskriminas. ­

Diskriminasi dapat didefinisikan sebagai perilaku negatif terhadap orang lain. yang menjadi target prasangka. Merasa tidak nyaman jika duduk di samping target prasangka menunjukkan bahwa seseorang memiliki prasangka. Namun, memutuskan untuk pindah tempat duduk untuk menjauhi target prasangka adalah sebuah diskriminasi.

Dasar dari munculnya prasangka dan diskriminasi adalah stereotip. Stereotip adalah belief tentang karakteristik dari anggota kelompok tertentu, bisa positif ­atau bisa juga negatif. Walaupun dikatakan bahwa stereotip adalah dasar dari prasangka dan diskriminasi, namun tidak berarti bahwa seseorang yang memiliki ­stereotip negatif mengenai sebuah kelompok tertentu pasti akan menampilkan prasangka dan diskriminasi.

Patricia Devine (1989 dalam Deaux dan Wrightsman, 1993) mengembangkan model prasangka yang memisahkan antara komponen yang bersifat otomatis dan yang dapat dikontrol dari respons prasangka. Jika seseorang yang memiliki belief tentang sebuah kelompok berjumpa dengan anggota kelompok yang bersangkutan, maka terdapat aktivasi dari belief yang dimilikinya. Namun, belief ini tidak langsung otomatis menjadi prasangka dan diskriminasi. Orang tersebut memiliki kontrol untuk meneruskan atau tidak meneruskan belief tadi untuk menjadi prasangka dan diskriminasi. Apabila ia tidak melakukan apa-apa untuk menghambat belief, maka akan terjadi prasangka. Di lain pihak, jika ia melakukan sesuatu untuk menghambat berkembangnya prasangka, misalnya dengan berpikir bahwa belum tentu orang yang dijumpainya memiliki karakteristik persis seperti anggota lain kelompoknya, maka prasangka tidak terjadi.

Sabtu, 29 Januari 2011

KESULITAN BELAJAR


Kesulitan belajar mempunyai pengertian yang luas dan dalam sebab menyangkut:
a. Kekacauan belajar (learning disorder),
b. Adanya gejala proses belajar tidak berfungsi secara. baik (learning disfunction), meskipun tidak menujukkan gejala sub normalitas atau gangguan alat deria (indriani) atau gangguan psikologis.
c. Siswa yang memiliki tingkat potensi intelaktual tergolong tidak normal (underachiever)
d. Anak yang yang lambat dalam melakukan proses belajar (slow learner)
Kesulitan belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifestasi tingkah laku. Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara langsung maupun tidak langsung, juga dalam berbagai bentuk tingkah laku. Misalnya saja,
(a) Sesuai dengan pengertian kesulitan belajar, tingkah laku yang dimanifestasikannya ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu. Gejala ini akan tampak dalam aspek motorik, kognitif, konatif (kehendak) dan afektif baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya. Contoh sulit dan lambat dalam berkomunikasi.
(b) Beberapa ciri tingkah laku yang merupakan pernyataan suatu
manifestasi (pengeja wantahan) gejala kesulitan belajar antara lain:
(1) Menunjukkan hasil belajar yang rendah dibawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
(2) Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada murid yang selalu berusaha untuk belajar dengan gist tetapi nilai yang dicapai selalu rendah.
(3) Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar. Ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu tyang tersedia. Misalnya rata-rata siswa dapat menyelesaikan tugas daam 40 menit, maka siswa yang menghadapi kesulitan belajar memerlukan waktu yang lebih lama karena dengan waktu yang tersedia ia tidak dapat menyelesaikan tugasnya.
(4) Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta, dan sebagainya.
(5) Menunjukkan tingkah lau yang berlainan, seperti membolos, dating terlambat, tidak mengerjakan peerjaan rumah, mengganggu dalam atau di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, mengasingkan diri, tersisihkan tidak mau bekerja sama, dan sebagainya.
(6) Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan adanya perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.

KRISIS



Menurut Dadang Hawari (2000) faktor psikososial merupakan indikator kesehatan jiwa masyarakat. Perkembangan berikutnya, setiap individu juga dihadapkan pada berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Kenyataan tersebut telah memisahkan nilai-nilai spiritual sebagai sumber kebahagiaan hidup dan dirasakan oleh mereka sebagai suatu kekurangan. Hal tersebut menjadi sebab munculnya krisis yang ada di dalam diri manusia karena tidak dapat menyelesaikan persoalan yang ada di dalam dirinya. Dengan demikian, semakin dapat dipahami bahwa jalan hidup merupakan serentetaan krisis, sebagian dapat diramalkan, dan diantisipasi, sebagian betul-betul merupakan kejutan. Hidup menuntut kita untk menyelesaikan berbagai persoalan. Setiap situasi baru memberi kita cara baru dalam menggunakan kemampuan untuk mengatasi siatuasi. Namun suatu saat kita akan menemukan suatu perubahan besar atau masalah yang rasanya di luar kemampuan untuk menanggulanginya. Apabila masalahnya terlalu berat dan sistem penunjang kita tidak berjalan baik, maka kita akan kehilangan keseimbangan, inilah yang disebut krisis.

Webster (1987) menjabarkan kata krisis sebagai suatu masa yang gawat/krisis sekali dan suatu titik balik dalam sesuatu. Istilah kata krisis sering digunakan untuk suatu reaksi dari dalam diri seseorang terhadap suatu bahaya dari luar. Suatu krisis biasanya meliputi hilangnya kemampuan untuk mengatasi sementara waktu dengan perkiraan bahwa gangguan fungsi emosi dapat kembali seperti semula. Jika seseorang itu mengatasi ancaman secara efektif, maka ia dapat berfungsi kembali seperti keadaan sebelum krisis. Caplan (1990) menjelaskan krisis dalam pengertian psikososial yakni suatu keadaan kebingungan emosional dari seorang individu/suatu unit sosial, disebabkan oleh peristiwa-peristiwa yang menghambat mekanisme pembelaan/pemeliharaan equilibrium psikologi yang ada. Bagi Mesach Krisetya (Yustine, 2008) krisis merupakan setiap peristiwa atau serangkaian keadaan yang mengancam suatu kesejahteraan pribadi dan mengganggu kehidupan rutin tiap harinya, membuat orang stress karena merubah kehidupan individu secara mendadak, sering implikasinya berkepanjangan.

Menurut Geldard (1993) situasi krisis adalah situasi-situasi dengan resiko tinggi. Krisis timbul sewaktu atau setelah sesuatu peristiwa terjadi secara mendadak sehingga merubah persepsi partisipan (orang-orang yang ditimpanya) tentang kemanan dan tatanan dunia. Secara lebih rinci, Neviyani (2005) menyatakan bahwa krisis merupakan keadaan yang berbahaya, keadaan yang genting, kemelut, keadaan yang suram, akibat terjadinya suatu peristiwa secara mendadak, sehingga orang atau orang-orang yang ditimpanya merasa dunia dan kehidupannya tidak aman.

Thompson (1991) mendefinisikan crisis is a varian of stress tht it’s so serve that individual becomes disorganized unable to function effectively, krisis adalah suatu keadaan kacau merupakan variasi dari ketertekanan (stress) yang dialami individu, di mana individu menjadi disorganisasi dan tidak dapat berfungsi secara efektif. Collins (1989) memberi pengertian krisis sebagai keadaan individu yang kacau balau di mana individu tersebut menghadapi kekecewaan yang amat mendalam dalam mencapai matlamat-matlamat dalam hidupnya yang penting atau kehancuran besar dalam hidupnya dalam menghadapi tekanan-tekanan baik dari luar maupun dari dalam. Selanjutnya Collins menyatakan bahwa krisis dapat digolongkan sebagai : (1) stress yang spesifik; (2) datang mendadak; (3) sangat berat; (4) individu shock atau bingung, tidak tahu apa yang akan dilakukan. Dalam keadaan inilah individu membutukan pertolongan dari orang lain.

Dari berbagai definisi tersebut kiranya ada satu kesamaan pandang bahwa krisis adalah keadaan berbahaya, keadaan yang genting, kemelut, keadaan suram akibat terjadinya suatu peristiwa secara mendadak sehingga orang atau orang-orang yang ditimpanya merasa dunia dan kehidupannya tidak aman.

Jumat, 28 Januari 2011

APA ITU MEMORI JANGKA PENDEK DAN MEMORI JANGKA PANJANG?


Penelitian telah menunjukkan bahwa memori terbagi dalam beberapa jenis. Masing-masing memori memiliki mekanisme unik dalam menyimpan informasi. Hal yang patut dicatat adalah walaupun terbagi-bagi dalam beberapa jenis, setiap jenis memori terhubung satu sama lain. Pengaktifan salah satu jenis memori akan mengaktifkan memori jenis lainnya. Hal ini memungkinkan sebuah informasi dapat disimpan di beberapa tempat penyimpanan memori yang berbeda. Berarti, apabila kita mampu menyimpan informasi tersebut dalam berbagai jenis memori, akan memudahkan untuk mengakses kembali informasi tersebut, kapan pun dibutuhkan (Harianti, 2008: 10).

a. Memori Jangka Pendek

Memori jenis pertama sudah dibahas sebelumnya, yaitu memori jangka pendek (immediate memory). Memori ini memiliki 7 kapasitas memori (+ dua) dan berdurasi sekitar 15-30 detik. Dengan kata lain, seorang dewasa mampu mengingat 5-9 kapasitas memori selama kurang lebih 15 hingga 30 detik.

Jumlah angka pada nomor telepon (lokal telkom) berjumlah tidak lebih dari 9 digit. Angka 7 merupakan sebuah keterbatasan biologis yang nyata pada ingatan jangka pendek seseorang. Ketika sebuah deretan angka lebih dari 7, akan sulit bagi seseorang untuk mengingat deretan angka tersebut. Sering seseorang harus mengelompokkan terlebih dahulu angka-angka tersebut menjadi beberapa kelompok agar memudahkan untuk mengingatnya.

Memori jangka pendek memang memiliki keterbatasan, tidak hanya dalam hal kapasitas memori yang dapat diingat, tetapi juga durasinya. Durasi jenis memori ini yang hanya berkisar antara 15 hingga 30 detik akan membuat memori ini hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara informasi yang akan diolah. Namun, apabila Seseorangsering melakukan “pengulangan” dalam mengakses informasi, kemungkinan besar informasi tersebut akan masuk ke dalam jenis memori lainnya, yaitu memori kerja (working memory).

Memori jangka pendek merupakan suatu proses aktif. Mengulang ulang nomor telepon rekan sampai Seseorangdapat mengingatnya merupakan salah satu contoh yang bisa dilakukan. Sebenarnya, Seseorangbisa memberikan “perlakuan” yang tepat pada jenis memori ini. I)alam hal ini, yang perlu dilakukan pada saat ingin mengingat sebuah informasi yang baru saja diterima, Seseorangdapat langsung mengaitkan otau mengasosiasikannya dengan hal-hal tertentu. Setelah berhasil memberikan “perlakuan” yang tepat, Seseorangakan dapat memanggil kembali informasi tersebut kapan pun Seseorangmembutuhkannya. Beberapa “perlakuan” terhadap memori ini akan dibahas lebih mendalam pada bagian berikutnya.

b. Memori Kerja

Jenis memori kedua adalah memori kerja (working memory). Memori ini dapat menyimpan informasi mulai dari beberapa menit hingga beberapa jam kemudian. Biasanya, memori Kerja berfungsi mengubah informasi, tetap menjejaki perubahan dan memperbarui memori, pemanggilan kembali informasi, membuat perbandingan, dan membagi perhatian. Dari beberapa penelitian, disebutkan bahwa terclapat korelasi besar yang cukup positif antara efisiensi memori kerja dengan kemampuan kognitif umum. Ini berarti bahwa seseorang yang memiliki memori kerja yang baik cenderung memiliki kemampuan kognitif di atas rata-rata. Kemampuan menyimpan informasi yang dilakukan oleh memori kerja memungkinkan informasi tersebut masuk ke dalam memori jangka panjang. Kemampuan memori kerja dalam menyimpan informasi sangat bergantung pada usia. Semakin berumur, semakin besar kapasitas memori kerja seseorang.

c. Memori Perantara

Memori perantara merupakan jenis memori yang ketiga. Dalam hal ini, informasi yang telah keluar dari memori jangka pendek dan memori kerja, emudian masuk ke tempat penampungan sementara yang disebut memori perantara. Mungkin kita menganggap bahwa apabila sebuah informasi telah diproses dan tidak dibutuhkan lagi informasi tersebut akan hilang. Sebenarnya, informasi tersebut akan ditransfer ke memori jangka panjang pada saat kita tidur.

d. Memori Jangka Panjang

Jenismemori terakhir adalah memori jangka panjang. Memori ini adalah tidak terbatas dan berdurasi selamanya! Seseorang tentu dapat membayangkan betapa hebatnya dirinya apabila mampu menggunakan jenis memori ini secara maksimal.

Ada yang membagi memori jangka panjang menjadi memori non deklaratif (implisit) dan memori deklaratif (eksplisit). Pendapat lainnya membagi memori jangka panjang menjadi dua macam, yaitu memori episodik dan memori semantik.

Rabu, 26 Januari 2011

Layanan Penguasaan Konten


Layanan Penguasaan Konten (PKO) merupakan layanan bantuan oleh individu (sendiri-sendiri ataupun dalam kelompok) untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan. kemampuan atau kompetensi yang dipelajari itu merupakan konten yang didalamnya terkandung fakta dan data, konsep, hukum dan aturan, nilai, persepsi, afeksi, sikap dan tindakan terkait didalamnya. Layanan penguasaan konten membantu menguasai aspek-aspek konten tersebut secara tersinergikan. Layanan penguasaan konten, individu diharapkan mampu memenuhi kebutuhannya serta mengatasi masalah-masalah yang dialaminya.

1. Tujuan Umum

Tujuan umum layanan PKO adalah dikuasainya suatu konten tertentu. Penguasaan konten ini perlu bagi individu atau klien untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan penilaian dan sikap, menguasai cara-cara atau kebiasaan tertentu, untuk memenuhi kebutuhannya dan mengatasi masalah-masalahnya. Dengan penguasaan konten yang dimaksud itu individu yang bersangkutan lebih mampu menjalani kehidupannya secara efektif (effective daily living).

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus layanan PKO dapat dilihat pertama dari kepentingan individu atau klien mempelajarinya, dan kedua isi konten itu sendiri. Tujuan khusus layanan PKO terkait dengan fungsi-fungsi konseling.

a. Fungsi pemahaman, menyangkut konten-konten yang isinya merupakan berbagai hal yang perlu dipahami. Dalam hal ini seluruh aspek konten (yaitu fakta, data, konsep, proses, hukum dan aturan, nilai dan bahkan aspek yang menyangkut persepsi, afeksi, sikap dan tindakan) memerlukan pemahaman yang memadai. Konselor dari konten yang menjadi fokus layanan PKO.

b. Fungsi pencegahan dapat menjadi muatan layanan PKO apabila kontennya memang terarah kepada terhindarkannya individu atau klien dari mengalami masalah tertentu.

c. Fungsi pengentasan akan menjadi arah layanan apabila penguasaan konten memang untuk mengatasi masalah yang sedang dialami klien.

Penguasaan konten dapat secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan di satu sisi, dan di sisi lain memelihara potensi individu atau klien. Pengajaran dan pelatihan dalam PKO dapat mengemban fungsi pengembangan dan pemeliharaan.

Penguasaan konten yang tepat dan terarah memungkinkan individu membela diri sendiri terhadap ancaman ataupun pelanggaran atas hak-haknya. Dengan demikian, layanan PKO dapat mendukung fungsi advokasi.

Dalam menyelenggarakan layanan PKO Konselor perlu menekankan secara jelas dan spesifik fungsi-fungsi konseling mana yang menjadi arah layanannya dengan konten khusus yang menjadi focus kegiatannya. Penekanan atas fungsi itulah, sesuai dengan isi konten yang dimaksud, akan dicapai tujuan khusus layanan PKO.