Sabtu, 30 April 2011

TIKUS



Tikus tergolong hewan yang mudah dipegang tetapi bila dibanding mencit, ia kurang photophobic (Farris, 1971). Tikus laboratorium adalah spesies tikus Rattus norvegicus yang dibesarkan dan disimpan untuk penelitian ilmiah. Tikus laboratorium telah digunakan sebagai model hewan yang penting untuk penelitian di bidang psikologi, kedokteran, dan bidang lainnya. Formula gigi tikus 1 0 0 3 (ICPM) = 16, sedangkan kelenjar saliva terdiri dari kelenjar submaxillaris dan sublingualis. Ukuran tubuh tikus yang lebih besar daripada mencit membuat tikus lebih disukai untuk berbagai penelitian. Berbeda dengan hewan laboratorium lainnya, tikus tidak pernah muntah. Di samping itu tikus tidak memiliki kelenjar empedu. Lambung tikus terdiri dari dua bagian yaitu nonglandular dan glandular dan small intestine terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum. Pada umur 2 bulan berat badannya dapat mencapai 200 – 300 gram.

Data Bilogi Tikus (Fox, 1984)

Berat badan

Jantan (gram) : 300 – 400

Betina (gram) : 250 – 300

Lama hidup (tahun) : 2,5 – 3

Temperatur tubuh (°C) : 37,5

Kebutuhan air (ml/100g BB) : 8 – 11

Kebutuhan makanan (g/100g BB) : 5

Pubertas (hari) : 50 – 60

Lama kebuntingan (hari) : 21 – 23

Mata membuka (hari) : 10 – 12

Tekanan darah

Systolik (mmHg) : 84 – 184

Diastolik (mmHg) : 58 – 145

Frekuensi jantung (per menit) : 330 – 480

Frekuensi respirasi (per menit) : 66 – 114

Tidal volume (ml) : 0,6 – 1,25

Gambaran Hematologi Tikus (Mitruka, 1981; dan Loeb, 1989)

Eritrosit (RBC) (× 106 / mm3 ) : 5,00 – 12,00

Hemoglobin (g/dl) : 11,1 – 18,0

MCV (m3) : 44,5 – 69,0

MCH (mmg) : 12,0 – 24,5

MCHC (%) : 21,6 – 42,0

Hematokrit (PCV) (ml %) : 36,0 – 52,0

Leukosit (WBC) (× 103 / mm3) : 3,00 – 15,00

Neutrofil (× 103 / mm3) : 1,10 – 4,00

Eosinofil (× 103 / mm3) : 0,00 – 0,08

Basofil (× 103 / mm3) : 0,00 – 4,00

Limfosit (× 103 / mm3) : 4,00 – 10,00

Monosit (× 103 / mm3) : 0,00 – 0,10

Glukose (mg/dl) : 50 – 135

BUN (mg/dl) : 5,0 – 29,0

Kolesterol (mg/dl) : 10,0 – 54,0

Total protein (g/dl) : 4,70 – 8,15

Albumin (g/dl) : 2,70 – 5,10

SGOT (IU/I) : 45,7 – 80,8

SGPT (IU/I) : 17,5 – 30,2

Alkaline fosfatase (IU/I) : 56,8 – 128


Karakteristik dan Analisis Urin Tikus (Mitruka, 1981)

Volume (ml/kg BB/hari) : 50 - 350

pH : 7,3 – 8,5

Calcium (ml/kg BB/hari) : 3,00 – 9,00

Chloride (ml/kg BB/hari) : 50,0 – 75,0

Kreatinine (ml/kg BB/hari) : 24,0 – 40,0

Magnesium (ml/kg BB/hari) : 0,20 – 1,90

Total protein (ml/kg BB/hari) : 1,20 – 6,20

Sodium (ml/kg BB/hari) : 90,4 - 110

Urea nitrogen (g/kg BB/hari) : 1,00 – 1,60

Uric acid (ml/kg BB/hari) : 8,00 – 12,00






Senin, 25 April 2011

GANGGUAN PSIKOLOGIS PADA WANITA MENOPAUSE


1. Depresi Menstrual

Gangguan ini merupakan manifestasi dari kepedihan hati dan kekecewaan, bahwa wanita yang bersangkutan menjadi kurang lengkap dan sempurna disebabkan oleh berhentinya fungsi reproduksi dan haid.

Cara mengatasi gangguan psikologis tersebut yaitu dengan memberikan dukungan sosial yang meliputi :

a. Dukungan Informatif

1. Memberi konseling bahwa berhentinya haid adalah hal yang fisiologis dan akan dialami oleh semua wanita.

2. Memberikan nasehat agar wanita tersebut mau dan bisa menerima status quo (keadaan dirinya pada saat ini) dengan lapang dada.

3. Memberikan nasehat agar selalu mengkomunikasikan setiap masalah atau perubahan yang terjadi kepada suaminya serta mencari tahu lebih banyak tentang hal yang dihadapinya melalui media cetak, elektronik, dan lain-lain.

4. Memberikan nasehat untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa contohnya dengan ibadah teratur dan memberi contoh-contoh pengalaman positif tentang wanita menopause.

5. Menganjurkan untuk berolahraga.

6. Memberikan latihan penanganan stress.

7. Memberikan nasehat untuk konsultasi ke dokter Obgyn atau psikolog bila perlu.

b. Dukungan emosional

1. Mempunyai perasaan empati terhadap wanita menopause.

2. Menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman, tenang, harmonis, dan saling pengertian dengan memberikan perhatian dan kepedulian kepada wanita menopause yang melibatkan anggota keluarga terutama suami.

c. Dukungan penghargaan

1. Memberikan penghargaan (rasa hormat) agar wanita tersebut merasa dihargai.

2. Memberikan dorongan/support agar wanita tersebut percaya diri.

d. Dukungan Instrumental

Dengan cara memberikan bantuan tenaga maupun materi terhadap apa yang dibutuhkan oleh wanita menopause (yang dilakukan oleh keluarga, teman, tetangga atau yang lain).

2. Ide delirius

Jika pada usia pubertas sudah pernah muncul predisposisi psiko somatis dan gejala psikis histeris, nafsu-nafsu petualangan dan gangguan psikis lain, maka pada usia klimakteris ini predisposisi dan gejala-gejala abnormal tadi akan muncul kembali. Biasanya gejala tersebut berisikan ide delirius (kegilaan).

Cara mengatasi gangguan psikologis tersebut yaitu dengan :

1. Memberikan nasihat agar lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

2. Memberikan nasihat mengembangkan pikiran-pikiran atau ide yang positif dalam kehidupannya.

3. Masturbasi Klitoris

Ada kalanya pada wanita yang menopause timbul semacam kebutuhan seksual yang luar biasa seksualitasnya menjadi hangat membara lagi dan sensitif sekali sehingga wanita tersebut melakukan masturbasi klitoris (onani kelentit).

Cara mengatasi gangguan psikologis tersebut yaitu dengan :

a. Memberikan nasihat untuk memenuhi kebutuhan sex secara sehat dan hendaknya berkonsultasi ke ahli kebidanan (dr.Obgyn) untuk mendapat terapi.

b. Memberikan konseling bahwa hubungan sex bisa dilakukan walaupun oleh wanita menopause.

c. Mengkomunikasikan masalah pada suami dan diharapkan suami mau membantu serta memberi dukungan dalam memecahkan masalah.

4. Aktifitas Hipomanis Semu

Gangguan ini ditandai dengan seolah – olah wanita ini merasakan vitalitas hidupnya jadi bertambah. Ia merasa muda bagaikan gadis remaja dan selalu meyakinkan diri sendiri bahwa ia berambisi atau mampu memulai kehidupannya dari awal lagi.’

Cara mengatasi gangguan psikologis tersebut yaitu dengan memberi nasehat agar aktifitas yang dilakukan dapat mengarah ke hal-hal yang positif contohnya berolahraga, menghadiri ceramah, dll dan mengisi waktu dengan kegiatan yang memperdalam kebudayaan atau bakat, misalnya melukis, dll.

Selasa, 12 April 2011

Teknik analisa data kualitatif model Spradley


Teknik analisa data kualitatif model Spradley secara keseluruhan proses penelitian terdiri atas: pengamatan deskriptif, analisis domein, pengamatan terfokus, analisis taksonomi, pengamatan terpilih, analisis komponensial, dan diakhiri dengan analisis tema (Moleong 2010: 302). Proses tersebut dapat disederhanakan dalam empat tahap sebagai berikut.

1. Analisis domein

Analisis domein (bidang) dilakukan terhadap data yang diperoleh dari pengamatan berperanserta/ wawancara atau pengamatan deskriptif yang terdapat dalam catatan lapangan. Ada enam tahap analisis domein: (1) memilih salah satu hubungan semantik dari sembilan yang ada: termasuk, spasial, sebab-akibat, rasional, lokasi tempat bertindak, fungsi, alat-tujuan, urutan, dan memberi atribut /nama; (2) menyiapkan lembar analisis domein, (3) memilih salah satu sampel catatan lapangan, (4) mencari istilah acuan dan istilah bagian yang cocok, (5) mengulangi usaha pencarian domein, (6) membuat daftar domein yang ditemukan.

2 Analisis taksonomi

Setelah selesai analisis domein, dilakukan pengamatan dan wawancara terfokus berdasarkan fokus yang sebelumnya telah dipilih oleh peneliti. Hasil terpilih untuk memperdalam data ditemukan melalui pengajuan sejumlah pertanyaan kontras. Data hasil wawancara terpilih dimuat dalam catatan lapangan.

Tujuh langkah analisis taksonomi yaitu: (1) memilih satu domein untuk dianalisis untuk dianalisis, (2) mencari kesamaan atas dasar hubungan semantik yang sama digunakan untuk domein itu, (3) mencari tambahan istilah bagian, (4) mencari domein yang lebih besar dan lebih inklusif, (5) membentuk taksonomi sementara, (6) mengadakan wawancara terfokus untuk mencek analisis yang telah dilakukan, dan (7) membangun taksonomi secara lengkap.

3 Analisis komponen

Setelah analisis taksonomi, dilakukan wawacara terpilih untuk memperdalam data yang telah ditemukan melalui pengajuan sejumlah pertanyaan kontras. Data hasil wawancara terpilih dimuat dalam catatan lapangan.

Delapan langkap analisis komponen: (1) memilih domein yang akan dianalisis, (2) mengidentifikasi seluruh kontras (perbedaan) yang telah ditemukan, (3) menyiapkan lembar paradigma, (4) mengidentifikasikan dimensi kontras yang memiliki dua nilai, (5) menggabungkan dimensi kontras yang berkaitan erat menjadi satu, (6) menyiapkan pertanyaan kontras (berlawanan) untuk ciri yang tidak ada, (7) mengadakan pengamatan terpilih untuk melengkapi data, (8) menyiapkan paradigma (pola pikir) lengkap.

4 Analisis tema

Analisis tema merupakan seperangkat prosedur untuk memahami secara holistik pemandangan yang sedang diteliti. Sebab setiap kebudayaan terintegrasi dalam beberapa jenis pola yang lebih luas.

Dalam penelitian ini untuk menemukan tema universal dipilih satu dari enam topik: (1) konflik sosial, (2) kontradiksi budaya, (3) teknik kontrol sosial, (4) hubungan sosial pribadi, (5) memperoleh dan menjaga status dan (6) memecahkan masalah.

Kamis, 31 Maret 2011

RINGGIT


Teges harfiah saking ringgit utawi wayang inggih punika bayangan, sairing wektu pangertosan ringgit saget dipuntegesaken tontonan panggung, teater utawi actor lan artis. Ringgit minangka seni teater ateges nalika tontonan ing panggung sutradara ndherek main. Dados benten kaliyan sandiwara utawi film amargi sutradara boten ketinggal minangka pemain. Sutradara ing ringgit kawastanan dhalang, ingkang perananipun dominasi tontonan kados ing ringgit purwa ing Jawi.

Miturut Sri Mangkunegara IV (ing Achmadi 2004: 36) ringgit dipunbagi dados tigang jenis, inggih punika : (1) ringgit purwa, inggih punika ringgit ingkang nyariosaken rawuhipun Prabu Isaka ngantos dumugi sedanipun Maharaja Yudayana ing Astina, (2) ringgit madya, inggih punika ringgit ingkang ntariosaken sedanipun Prabu Yudayana dumugi Prabu Jayalengka jumeneng nata, (3) ringgit wasana, inggih punika ringgit ingkang nyariosaken Prabu Jayalengkara dumugi mlebetipun agami Islam. Apresiasi ringgit minangka salah satunggalipun wujud seni budaya klasik budaya tradisional Bangsa Indonesia ingkang ngrembaka ngantos sapunika ing masyarakat. Saking agengipun peran ing gesangipun tiyang Jawi ndadosaken ringgit minangka salah satunggalipun identitas manungsa Jawi.

Ringgit minangka salah satunggalipun budaya Jawi ingkang ngemu pitedah-pitedah lan aosing etis-positif ingkang sampun dipunuji kaleresanipun ing wekdal ingkang dangu, sahengga lumantar ringgit ringgit saged dipundadosaken sarana dhidhik watak. Ing salebetipun ndhidhik watak manungsa dipunpikajenganken ngangge sarana supados para siswa kasengsem dening punapa ingkang kaparingaken dwija. Dados ing salebetipun lampahan ringgit wonten pesen moral ingkang dipunasta dening dhalang kangge dipunpenggalih . Menawi asilinh penggalih kasebat jumbuh kaliyan pamanggihipun , mila asiling penggalih punika saged dipundamel landesan gesang saben dintenipun.

Ringgit kaanggep minangka sumber nilai filsafati. Amargi ing lakon ringgit ngemot aosing gesang arupi wejangan, pitutur, petuah lan ajaran gesang supados manungsa slamet lan mulya salebetipun ngampahi gesang sae wonten ing donya lan akherat.

Ringgit minangka seni tontonan mucal nilai-nilai awujud simbolik lan konotatif sarta estetik. Aosing estetik saged kapanggihaken wonten ing wujud ringgit, cariosipun lan tontonanipun. Ing salebetipun maringi wejangan, normal an pedoman gesang dipunkersakaken pamirsa kersa nganut, bab-bab ingkang kalawau kababar ing wujud simbolik ing asilipun seni kang endah.

Achmad Asmoro (2004: 57) Ing jagadipun pewayangan ngemot nilai-nilai ingkang sae antawisipun : (1) ringgit minangka sumber madosi nilai-nilai, (2) ringgit minangka wahana pendhidhikan watak, (3) ringgit kebak dening nilai-nilai kaluhuran, (4) ringgit minangka panggambaran alam pikiran manungsa, (5) ringgit minangka sarana pangukuhan kabudayan, (6) ringgit minangaka pengendalian sosial, (7) ringgit minangka sarana pengukuhan status sosial, (8) ringgit minangka penanaman solidaritas sosial, (9) ringgit minangka hiburan.

Miturur Hasim Amir (ing Avhmadi 2004: 61) njlentrehaken bilih ing lampahan ringgit nuduhaken aosing pendhidhikan sacara etis antawisipun: (a) Aosing kasampurnan ingkang sejati, (b) Aosing kasatuan sejati, (c) Aosing bebener ingkang sejati, (d) Aosing kasucen sejati, (e) Aosing kaadilan sejati, (f) Aosing kaagungan sejati, (g) Aosing kemercusuaran sejati, (h) Aosing keabadian sejati, (i) Aosing keteraturan makrokosmos sejati, (j) Aosing kebijakan sejati, (k) Aosing realita lan pangertosan sejati, (l) Aosing kasadaran lan kapitadosan sejati, (m) Aosing katresnan sejati, (n) Aosing tanggel jawab sejati, (o) Aosing kehendak , niat lan tekad sejati. (p) Aosing kekendelan, greget lan pengabdian sejati, (q) Aosing kakuwatan, (r) Aosing bebungah sejati.

Cara panggangit ngambaraken utawi ngedalaken paraganipun kanthi maneka cara. Umpamanipun pangripta nggambaraken paraga minangka paraga ingkang naming gesang ing alam impen, paraga ingkang nggadahi gumregut ing gesangipun, paraga ingkang nggadahi cara jumbuh kaliyan gesang manungsa ingkang sabeneripun, paraga ingkang semrawut lan ngutamakaken badanipun piyambak. Paraga punika saged arupi manungsa, kewan tuladhanipun kancil, kucing, sepatu lan sanes-sanesipun (ing Aminudin 2002: 79)

Sifat paraga sejatosipun adhedhasar kalih werna, sifat lair (rupa ujud) lan sifat bathin (watak karakter). Sifat paraga punika saged dipunmangertosi kanthi maneka warnacara, antawisipun lumantar : (1) tindak tanduk, pocapan lan pikiran, (2) panggenan paraga kasebat, (3) barang-barang ing sakupenge paraga, (4) sesrawungan paraga sanesipun dhumateng piyambakipun, lan (5) deskripsi langsung sacara naratif dhumateng pangganggit (Shirazy 2009).

Margi saking punika, paraga punika sentral, amargi paraga ingkang ngasta lan nyimpen pesen, amanat, moral, utawi sedaya perkawis ingkang sengaja badhe kaaturaken pangganggit dhumateng pamaos.

Jumat, 04 Februari 2011

Dasar Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


Pengembangan Program kegiatan belajar/kurikulum bagi anak usia dini dikembangkan berdasarkan sejumlah pendekatan yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak usia dini. Dalam penelitian ini pendekatan yang akan digunakan dalam pengembangan program kegiatan belajar adalah berdasarkan teori perkembangan anak (child developmental, theories), pendekatan kelas berpusat pada anak (child centered approach), pendekatan kontruktivisme (constructivism approach) dan pendekatan kurikulum dengan dasar bermain (playbased curriculum approach) yang akan dipaparkan sebagai berikut :

1. Teori Perkembangan Anak

Pakar psikologi perkembangan memandang bahwa anak terlahir dengan dorongan dari dalam dirinya untuk menguasai berbagai kompetensi. Sebagai contoh seorang anak pada usia berjalan akan terlihat adanya usaha keras untuk menarik dirinya berdiri menggunakan kursi, pada mulanya memang la tidak akan segera naik bahkan terkadang terjatuh sehingga tampak diwajahnya menunjukkan kekesalan. Perjuangan untuk dapat berjalan terjadi secara kontinyu. Seolah takut terjatuh lagi, anak membangun kekuatan untuk bangun dan berdiri. Ini adalah bukti bahwa ada dorongan dari dalam (motivasi instrinsik) yang mengharuskan anak berdiri tegak dan kemudian berjalan.

Pada dasarnya terdapat 2 pendekatan utama yang digunakan untuk pendidikan anak usia dini, yaitu : pendekatan perilaku dan pendekatan perkembangan. Pendektan perilaku beranggapan bahwa konsep-konsep tidaklah berasal dari dalam diri anak dan tidak berkembang secara spontan. Atau dengan perkataan lain konsep-konsep tersebut harus ditanamkan pada anak dan diserap oleh anak, sehingga pendekatan seperti ini melahirkan pengajaran yang berpusat pada guru.

Pendekatan perkembangan, berpandangan bahwa perkembanganlah yang memberikan kerangka untuk memahami dan menghargai pertumbuhan alami anak usia dini. Terdapat beberapa anggapan dari pendekatan ini, yaitu: (1) anak usia dini adalah pebelajar aktif yang secara terus menerus mendapat informasi mengenai dunia lewat permainannya, (2) setiap anak mengalami kemajuan melalui tahapan-tahapan perkembangan yang dapat diperklirakan, (3) anak bergantung pada orang lain dalam hal pertumbuhan emosi dan kognitif melalui interaksi sosial, (4) anak adalah individu yang unik yang tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang berbeda.


2. Pendekatan Berpusat pada Anak

Pendekatan kelas yang berpusat pada anak (child centered approach) adalah suatu kegiatan belajar dimana terjadi interaksi dinamis antara guru dan anak atau antara anak dengan anak lainnya. Secara khusus bertujuan (1) agar anak mampu mewujudkan dan mengakibatkan perubahan, (2) agar anak menjadi pemikir-pemikir yang kritis, (3) anak mampu membuat pilihan- pilihan dalam hidupnya, (4) agar anak mampu menemukan dan menyelesaikan permasalahan secara konstruktif dan inovatif, (5) agar anak menjadi kreatif, imajinatif dan kaya akan gagasan, (6) agar anak memiliki perhatian terhadap masyarakat, negara dan lingkungannya.

Filosofi dari pembelajaran berpusat pada anak adalah program tahap demi tahap, yang didasari pada adanya suatu keyakinan bahwa anak-anak akan tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. Lingkungan yang dirancang secara cermat dengan menggunakan konsep tahap demi tahap mendorong anak-anak untuk bereksplorasi, mempelopori dan menciptakan sesuatu.

Landasan program pembelajaran berpusat pada anak didasari pada 3 prinsip utama program tahap demi tahap bagi anak usia dini, yaitu: konstruktifisme, pelaksanaan yang sesuai dengan perkembangan, dan pendidikan progresif (proses seumur hidup).

Secara spesifik pembelajaran yang berpusat pada anak bertujuan untuk : (1) mengembangkan kemampuan anak secara alamiah sesuai dengan tingkat perkembangannya, (2) berusaha membuat anak bebas dan aman secara psikologis sehingga senang belajar di sekolah, (3) meningkatkan fepedulian dan kerja sama antara pihak sekolah, keluarga dan masyarakat, (4) menekankan pada asas keterbukaan bagi hal-bal yang menunjang pendidikan anak (5) berusaha melengkapi segala kebutuhan yang menunjang perkembangan anak secara optimal.

Model berpusat pada anak sangat berbeda dengan model berpusat pada guru. Pada model yang berpusat pada anak pendekatan yang digLinakan adalah pendekatan berdasarkan perkembangan dan kegiatan bermain, sedangkan pada model yang berpusat pada guru pendekatannya berdasarkan perilaku yang diatur dan pembelajaran yang diatur oleh guru. Mode] berpusat pada anak memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) berorientasi pada perkembeingan anak, (2) berorientasi pada bermain, (3) berdasarkan proses, dan (4) bersifat terbuka / bebas

3. Pendekatan Kontruktivisme

Aliran konstruktifisme meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak berusaha memahami dunia disekeliling mereka, anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia sekitar dan pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya, orang dewasa dan lingkungan.

Selanjutnya dalam pemikiran yang lebih dalam Piaget menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya interaksi langsung indera dengan kenyataan, tetapi juga harus ada pemikiran tentang perubahan yang terjadi yang berhubungan dengan kenyataan, perubahan inilah yang akan membangun pengetahuan nantinya. Pengetahuan juga berasal dari lingkungan budaya kita. Pengetahuan yang berasal dari budaya kita biasanya didapatkan secara turun­-menurun melalui orang-orang yang berada di sekitar kita. Pengetahuan dibangun oleh anak berdasarkan kemampuannya dalam memahami perbedaan berdasarkan persamaan yang tampak.

Lev Vygotsky berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan dari orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak. Selanjutnya dijelaskan bahwa belajar merupakan
suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar karena anak adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikologis yang mengendalikan perilaku belajarnya. Berhubungan dengan proses pembentukan pengetahuan, Vygotsky mengemukakan konsep zone of proximal development (ZPD) sebagai kapasitas potensial belajar anak yang dapat berwujud melalui bantuan orang dewasa atau orang yang lebih terampil. Terdapat 4 (empat) tahapan ZPD adalah pertama, tindakan anak masih dipengaruhi oleh orang lain, kedua tindakan anak didasarkan atas inisiatif sendiri, ketiga tindakan anak berkembang spontan dan terinternalisasi serta keempat tindakan spontan yang diulang-ulang sehingga anak siap berpikir abstrak


Dasar Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Pengembangan Program kegiatan belajar/kurikulum bagi anak usia dini dikembangkan berdasarkan sejumlah pendekatan yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak usia dini. Dalam penelitian ini pendekatan yang akan digunakan dalam pengembangan program kegiatan belajar adalah berdasarkan teori perkembangan anak (child developmental, theories), pendekatan kelas berpusat pada anak (child centered approach), pendekatan kontruktivisme (constructivism approach) dan pendekatan kurikulum dengan dasar bermain (playbased curriculum approach) yang akan dipaparkan sebagai berikut :

1. Teori Perkembangan Anak

Pakar psikologi perkembangan memandang bahwa anak terlahir dengan dorongan dari dalam dirinya untuk menguasai berbagai kompetensi. Sebagai contoh seorang anak pada usia berjalan akan terlihat adanya usaha keras untuk menarik dirinya berdiri menggunakan kursi, pada mulanya memang la tidak akan segera naik bahkan terkadang terjatuh sehingga tampak diwajahnya menunjukkan kekesalan. Perjuangan untuk dapat berjalan terjadi secara kontinyu. Seolah takut terjatuh lagi, anak membangun kekuatan untuk bangun dan berdiri. Ini adalah bukti bahwa ada dorongan dari dalam (motivasi instrinsik) yang mengharuskan anak berdiri tegak dan kemudian berjalan.

Pada dasarnya terdapat 2 pendekatan utama yang digunakan untuk pendidikan anak usia dini, yaitu : pendekatan perilaku dan pendekatan perkembangan. Pendektan perilaku beranggapan bahwa konsep-konsep tidaklah berasal dari dalam diri anak dan tidak berkembang secara spontan. Atau dengan perkataan lain konsep-konsep tersebut harus ditanamkan pada anak dan diserap oleh anak, sehingga pendekatan seperti ini melahirkan pengajaran yang berpusat pada guru.

Pendekatan perkembangan, berpandangan bahwa perkembanganlah yang memberikan kerangka untuk memahami dan menghargai pertumbuhan alami anak usia dini. Terdapat beberapa anggapan dari pendekatan ini, yaitu: (1) anak usia dini adalah pebelajar aktif yang secara terus menerus mendapat informasi mengenai dunia lewat permainannya, (2) setiap anak mengalami kemajuan melalui tahapan-tahapan perkembangan yang dapat diperklirakan, (3) anak bergantung pada orang lain dalam hal pertumbuhan emosi dan kognitif melalui interaksi sosial, (4) anak adalah individu yang unik yang tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang berbeda.


2. Pendekatan Berpusat pada Anak

Pendekatan kelas yang berpusat pada anak (child centered approach) adalah suatu kegiatan belajar dimana terjadi interaksi dinamis antara guru dan anak atau antara anak dengan anak lainnya. Secara khusus bertujuan (1) agar anak mampu mewujudkan dan mengakibatkan perubahan, (2) agar anak menjadi pemikir-pemikir yang kritis, (3) anak mampu membuat pilihan- pilihan dalam hidupnya, (4) agar anak mampu menemukan dan menyelesaikan permasalahan secara konstruktif dan inovatif, (5) agar anak menjadi kreatif, imajinatif dan kaya akan gagasan, (6) agar anak memiliki perhatian terhadap masyarakat, negara dan lingkungannya.

Filosofi dari pembelajaran berpusat pada anak adalah program tahap demi tahap, yang didasari pada adanya suatu keyakinan bahwa anak-anak akan tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. Lingkungan yang dirancang secara cermat dengan menggunakan konsep tahap demi tahap mendorong anak-anak untuk bereksplorasi, mempelopori dan menciptakan sesuatu.

Landasan program pembelajaran berpusat pada anak didasari pada 3 prinsip utama program tahap demi tahap bagi anak usia dini, yaitu: konstruktifisme, pelaksanaan yang sesuai dengan perkembangan, dan pendidikan progresif (proses seumur hidup).

Secara spesifik pembelajaran yang berpusat pada anak bertujuan untuk : (1) mengembangkan kemampuan anak secara alamiah sesuai dengan tingkat perkembangannya, (2) berusaha membuat anak bebas dan aman secara psikologis sehingga senang belajar di sekolah, (3) meningkatkan fepedulian dan kerja sama antara pihak sekolah, keluarga dan masyarakat, (4) menekankan pada asas keterbukaan bagi hal-bal yang menunjang pendidikan anak (5) berusaha melengkapi segala kebutuhan yang menunjang perkembangan anak secara optimal.

Model berpusat pada anak sangat berbeda dengan model berpusat pada guru. Pada model yang berpusat pada anak pendekatan yang digLinakan adalah pendekatan berdasarkan perkembangan dan kegiatan bermain, sedangkan pada model yang berpusat pada guru pendekatannya berdasarkan perilaku yang diatur dan pembelajaran yang diatur oleh guru. Mode] berpusat pada anak memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) berorientasi pada perkembeingan anak, (2) berorientasi pada bermain, (3) berdasarkan proses, dan (4) bersifat terbuka / bebas

3. Pendekatan Kontruktivisme

Aliran konstruktifisme meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak berusaha memahami dunia disekeliling mereka, anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia sekitar dan pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya, orang dewasa dan lingkungan.

Selanjutnya dalam pemikiran yang lebih dalam Piaget menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya interaksi langsung indera dengan kenyataan, tetapi juga harus ada pemikiran tentang perubahan yang terjadi yang berhubungan dengan kenyataan, perubahan inilah yang akan membangun pengetahuan nantinya. Pengetahuan juga berasal dari lingkungan budaya kita. Pengetahuan yang berasal dari budaya kita biasanya didapatkan secara turun­-menurun melalui orang-orang yang berada di sekitar kita. Pengetahuan dibangun oleh anak berdasarkan kemampuannya dalam memahami perbedaan berdasarkan persamaan yang tampak.

Lev Vygotsky berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan dari orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak. Selanjutnya dijelaskan bahwa belajar merupakan
suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar karena anak adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikologis yang mengendalikan perilaku belajarnya. Berhubungan dengan proses pembentukan pengetahuan, Vygotsky mengemukakan konsep zone of proximal development (ZPD) sebagai kapasitas potensial belajar anak yang dapat berwujud melalui bantuan orang dewasa atau orang yang lebih terampil. Terdapat 4 (empat) tahapan ZPD adalah pertama, tindakan anak masih dipengaruhi oleh orang lain, kedua tindakan anak didasarkan atas inisiatif sendiri, ketiga tindakan anak berkembang spontan dan terinternalisasi serta keempat tindakan spontan yang diulang-ulang sehingga anak siap berpikir abstrak


STEREOTIP, PRASANGKA, DAN DISKRIMINASI


Banyak orang menyamakan penggunaan kata prasangka dan diskriminasi. Padahal, secara konseptual, dua kata tersebut memiliki pengertian yang benar-­benar berbeda.

Prasangka adalah sebuah sikap (biasanya bersifat negatif) ditujukan bagi anggota-anggota beberapa kelompok, yang didasarkan pada keanggotaannya dalam kelompok. Dengan kata lain, jika seseorang memiliki prasangka pada seseorang, maka prasangka yang muncul didasarkan pada keanggotaan orang tersebut pada sebuah kelompok dan bukan oleh karakteristik lain yang dimilikinya, seperti kepribadian, masa lalu, atau karena kebiasaan negatifnya. Prasangka yang berkembang lebih disebabkan oleh keanggotaannya dalam sebuah kelompok tertentu. Peran karakteristik diri dalam memunculkan prasangka dari orang yang menjadi target prasangka dapat dikatakan jauh lebih kecil ketimbang keanggotaannya dalam kelompok tertentu. Sebagai sebuah sikap, prasangka tidak harus tampil dalam perilaku yang berlebihan (over), tetapi bisa jadi sebagai sebuah kecenderungan psikologis. Jika prasangka tampil dalalm perilaku yang dapat dilihat, maka kita mendefinisikannya sebagai diskriminas. ­

Diskriminasi dapat didefinisikan sebagai perilaku negatif terhadap orang lain. yang menjadi target prasangka. Merasa tidak nyaman jika duduk di samping target prasangka menunjukkan bahwa seseorang memiliki prasangka. Namun, memutuskan untuk pindah tempat duduk untuk menjauhi target prasangka adalah sebuah diskriminasi.

Dasar dari munculnya prasangka dan diskriminasi adalah stereotip. Stereotip adalah belief tentang karakteristik dari anggota kelompok tertentu, bisa positif ­atau bisa juga negatif. Walaupun dikatakan bahwa stereotip adalah dasar dari prasangka dan diskriminasi, namun tidak berarti bahwa seseorang yang memiliki ­stereotip negatif mengenai sebuah kelompok tertentu pasti akan menampilkan prasangka dan diskriminasi.

Patricia Devine (1989 dalam Deaux dan Wrightsman, 1993) mengembangkan model prasangka yang memisahkan antara komponen yang bersifat otomatis dan yang dapat dikontrol dari respons prasangka. Jika seseorang yang memiliki belief tentang sebuah kelompok berjumpa dengan anggota kelompok yang bersangkutan, maka terdapat aktivasi dari belief yang dimilikinya. Namun, belief ini tidak langsung otomatis menjadi prasangka dan diskriminasi. Orang tersebut memiliki kontrol untuk meneruskan atau tidak meneruskan belief tadi untuk menjadi prasangka dan diskriminasi. Apabila ia tidak melakukan apa-apa untuk menghambat belief, maka akan terjadi prasangka. Di lain pihak, jika ia melakukan sesuatu untuk menghambat berkembangnya prasangka, misalnya dengan berpikir bahwa belum tentu orang yang dijumpainya memiliki karakteristik persis seperti anggota lain kelompoknya, maka prasangka tidak terjadi.